About

About Me

A trailing spouse, travel junkie, cat lover, and food enthusiast. An architect and a project manager. Currently living in Perth, Australia. Find out more at Finally Woken and @finallywoken.

Where I’ve been

Asia
1. Cambodia
2. China
3. Hong Kong
4. Indonesia
5. Japan
6. Malaysia
7. Singapore
8. Thailand
9. Vietnam
Oceania
10. Australia
11. Fiji
12. New Caledonia
13. New Zealand
14. Vanuatu
Europe
15. Austria
16. Belgium
17. France
18. Germany
19. Italty
20. The Netherlands
21. Spain
22. Switzerland
23. United Kingdom
Middle East
24. UAE

About This Blog

20120828-112204.jpg

Photo credit: Lucky Enough

Quote kondang dari Susan Sontag ini benar-benar menggambarkan semangat saya berkelana.  Sedari kecil saya selalu kagum pada mereka yang menghabiskan waktunya meloncati dunia seakan-akan tak kenal batas geografi, waktu, dan kendala bahasa. Komik Tintin yang terkenal itu adalah bacaan yang pertama kali menyadarkan saya bahwa ada dunia lain di luar Indonesia. Nama-nama tempat yang disinggahi Tintin sungguh eksotik: Tibet! Mesir! Amerika Selatan! Bulan!!

Sejak saat itu, saya selalu bermimpi untuk menjelajah dunia. Saya masih ingat, sewaktu jaman internet belum lahir, tukar menukar buku diary lazim dilakukan antar teman, di mana kita mengisi nama, alamat, tanggal lahir, foto, kata-kata mutiara — jjjiaaahhh, kata-kata mutiara! Jadul banget yak — dan cita-cita. Yah, semacam facebook versi purba lah. Di situ rata-rata teman-teman saya menuliskan cita-citanya: dokter, pengacara, pengusaha. Saya? Astronot. Arkeolog.
20120828-133741.jpg
Photo credit: Wedding Wire

 

Pelan-pelan, saya menjelajah ke luar Indonesia. Singapura dulu, seperti template kita pada umumnya, karena negara ini yang paling dekat dengan Indonesia dan merupakan gerbang menuju, well, pretty much everywhere. Lalu makin jauh, negara-negara ASEAN, Asia, lalu Australia, New Zealand, lalu Timur Tengah, lalu Eropa. Sampai saat ini saya baru sempat melanglang buana ke 21 negara dan belum sempat menginjakkan kaki di benua Afrika dan Amerika. Tentu saja kedua kontinen tersebut sudah ada dalam daftar “must-see places” saya sejak lama, dan mudah-mudahan saya sempat mengunjungi kedua kontinen tersebut dalam lima tahun ke depan.

20120828-134214.jpg
Photo credit: Oleander & Palm

 

Makin tua (ehm…), makin sering saya berkelana, makin saya sadar bahwa dunia itu ternyata luaaaasss sekali. Bahkan negara yang sudah saya kunjungi beberapa kali pun masih saja seakan tak ada habisnya menyimpan tempat yang belum sempat saya datangi dan cerita yang menakjubkan. Dari kebiasaan mengunjungi obyek turis biasa yang sering kita lihat di brosur wisata, saya selalu merasa ada yang kurang dari kunjungan saya.

Butuh beberapa lama buat saya untuk menyadari bahwa yang saya cari bila traveling itu bukan sekedar ticking the box: Eifel, done. Pisa, done. Buckingham Palace, done. Saya bukan cuma sekedar ingin menjadi turis. Saya ingin ke tempat wisata yang jarang ditampilkan oleh agen perjalanan di Indonesia. Saya ingin mencoba merasakan bagaimana masyarakat lokal menjalani hidupnya sehari-hari. Saya ingin melihat dan merasa familiar dengan kota atau daerah yang saya kunjungi, bukan cuma mondar-mandir sekitar Avenue des Champs-Élysées Paris atau Oxford Street London. Saya tidak ingin terperangkap dalam tour bus, tanpa tahu bagaimana caranya sebuah kota terhubung dengan public transport-nya. Saya ingin makan di restoran yang penduduk lokal kunjungi, bukan tourist trap yang menyajikan santapan internasional dengan harga selangit. Yang saya inginkan adalah sesuatu yang lebih dalam daripada sekedar berfoto di depan Colosseum dengan lelaki berpakaian ala prajurit Roma, lebih dari sekedar scratching the surface. There should be something more about London than Buckingham Palace, something more about Tokyo than Meiji-jingu, something more about Sydney than Opera House!

I’m nosy, I want to know it all. I want to explore. I. Want. To. Dig.

20120828-132947.jpg
Photo credit: Crystal Clear

 

Ternyata agak sulit mencari informasi tujuan wisata ke luar negeri yang sedikit ‘tidak biasa’. Rata-rata informasi yang tersedia di Indonesia adalah tempat-tempat standard bagi semua orang. Misalnya, bila kita ke London, ya pastinya dibawa ke Buckingham Palace, atau London Eye, atau Museum Madam Tussaud. Padahal di London itu banyaaaaaaaaaaakkkkk sekali tempat-tempat menarik yang patut dikunjungi, tapi informasi yang tersedia biasanya tidak sampai ke telinga rakyat Indonesia. Misalnya? saat novel Dan Brown yang berjudul The Da Vinci Code melejit, saya bela-belain mencari tempat-tempat yang disebutkan di dalam novel tersebut, yang meskipun cukup ngetop, bukan merupakan tujuan utama berwisata rata-rata turis yang bepergian dari Indonesia.

Selain informasi yang lebih dalem mengenai suatu tempat, problem yang paling sering buat saya bila bepergian adalah mencari tempat makan yang pas. Kadang-kadang saran sesama traveler di tripadvisor pas buat saya, tapi kadang-kadang – mungkin karena lidah saya tetap lidah Asia – rasa makanannya terlalu hambar untuk selera saya. Belum lagi karena sering berkelana ke luar negeri, saya jadi berpengalaman keluar masuk kantor kedutaan atau konsulat jenderal untuk mengurus visa, yang tentu saja penuh dengan cerita suka dukanya.

Agustus 2012 barusan, timbul ide untuk berbagi pengalaman saya selama ini dengan kawan-kawan semua yang punya passion yang sama. Misi saya sederhana, membantu para traveler (dan calon traveler) mencari informasi lebih banyak mengenai negara, kota, atau obyek wisata yang dituju, langsung dari mata saya atau mereka yang sudah pernah mengalaminya.

Beberapa posting blog ini merupakan posting lama saya di blog pribadi saya, Finally Woken, yang cuma saya terjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia tanpa merubah konten-nya, sehingga mungkin informasinya tidak terkini, posting yang lainnya.

Menyadari bahwa dunia amat luas dan tidak mungkin saya jelajahi sendiri, model wisata juga bermacam-macam dari backpacking sampai cruise, dan pengalaman saya pasti berbeda dengan pengalaman teman-teman lainnya, maka saya juga meminta bantuan kawan-kawan yang lain untuk memberikan kontribusi pengalaman mereka selama ini.

Bila kamu tertarik untuk berbagi pengalaman kamu bertualang ke luar negeri, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya ya.

Terima kasih telah menyempatkan membaca keluar-negeri.com. Saya tunggu feedback, kritik, komentar dan sarannya!

 

 

Disclaimer:

No guarantees are made regarding the accuracy of information on my webpages, and details are always subject to change without notice. Unless noted, all text, photos and video on this web collection are by me.

 

Our Guests

Tips

About The Author

KeLuar Negeri

KeLuar Negeri

Indonesian travel enthusiast. 20 countries, hundreds of cities, millions of experience. Join me and share your journey at http://www.keluar-negeri.com

View Full Profile →

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.