Balada Sepatu

Sepatu apa yang kamu kenakan bila sedang bepergian?

Travel buddy saya adalah seorang perempuan yang tidak bisa mengenakan sepatu datar, atau sepatu tanpa hak. Bahkan bila kami berdua berlari-lari mengejar kereta, atau menjelajah kota, naik turun subway atau bus, mendaki bukit menuju kastil tua, ia selalu mengenakan sepatu yang paling sedikit memiliki 3 cm hak.

Dulu saya begitu, waktu masih muda. Namun karena pengalaman memalukan beberapa tahun lalu (baca ceritanya di sini) saya akhirnya menyerah kalah dan bersedia mengenakan sepatu datar bila jalan-jalan. Stiletto saya simpan untuk hari-hari khusus saja.

Meskipun begitu, saya tidak mau begitu saja mengenakan sepatu datar yang biasa-biasa saja. Saya bersumpah tidak akan memakai sepatu keds atau sepatu olah raga (yang sebetulnya sangat nyaman di kaki), kecuali bila sedang berada di dalam pusat kebugaran! No way, ballet flats is the answer!

Pernah di suatu sore yang super dingin di bulan Desember di Inggris, saya mengenakan ballet flats saya yang berwarna merah menyala, hanya dilengkapi dengan sepasang stocking tipis. Tanpa sol yang memadai untuk memberikan pelindung tumit, plus punggung kaki saya dirayapi udara dingin dan lembab bekas salju yang turun sebelumnya, tidak heran bila jari-jari saya kaku luar biasa sesampai di hotel. Namun saya bahagia, bahagia!, karena sore itu ada seorang wanita di dalam toko yang melihat sepatu merah saya dan memujinya, “Nice shoes!

Sepatu merah itu saya pakai berjalan-jalan mengelilingi kota Edinburgh beberapa jam tanpa masalah – selain kedinginan tentunya. Dengan senang hati sepatu itu saya simpan dengan catatan di dalam hati: good shoes for traveling!

20120901-173250.jpg

Beberapa tahun kemudian, saya menemukan tambatan hati pada sepasang ballet flats merk Gabor. Warnanya antara emas dan tembaga, dengan pita di atasnya, dan ada sedikit tambahan sol di tumitnya, sehingga membantu saya untuk tambah tinggi satu-dua sentimeter. Cantik, fungsional, dan efisien. Sungguh sepatu tersebut sangat enak dipakai, dan sudah terbukti ketangguhannya saat menemani saya berkeliling beberapa negara di Eropa berempat dengan kawan-kawan saya. Sayangnya, saking seringnya saya pakai, karena terbuat dari kulit, ujungnya jadi lecet dan warnanya mulai memudar. Tanpa saya ketahui, sewaktu sepatu tersebut tertinggal di Jakarta akhir tahun lalu, ibu saya tercinta memutuskan sepatu tersebut sudah layak turun gunung, dan menyerahkannya pada sebuah organisasi nirlaba.

20120901-173732.jpg
Kira-kira seperti inilah bentuk sepatu andalan saya, dengan warna copper

Masalahnya merk sepatu yang enak dipakai seperti Gabor ini (misalnya dr.Scholl atau Clarks), jarang yang modelnya menarik. Apalagi warnanya, seringnya hitam, atau merah marun, atau coklat. Tidak menawan hati! Apalagi waktu itu saya belinya jauh di Inggris, jadi saya sempat menjerit sewaktu mendapati sepatu itu hilang dari peredaran.

Singkat cerita, saya berangkat ke Spanyol April kemarin tanpa Gabor andalan dan mempercayakan nasib saya pada si ballet flats merah. Supaya tidak bosan, saya juga membawa sepasang ballet flats berwarna hitam keluaran desainer ternama. Pikir saya, sepatu mahal begini, harusnya enak dipakai, dong. Selama ini saya baru menguji sepatu desainer itu di dalam kota saja, cuma keluar-masuk pusat perbelanjaan seharian, dan nampaknya tidak ada masalah.

Entah kenapa, keberuntungan tidak berpihak pada saya. Setiap kali mengenakan si merah maupun si hitam, setelah dua-tiga jam jari-jari saya mulai membengkak dan setiap gesekan dengan kulit sepatu membuat saya ngilu. Biasanya setelah itu saya jalan terpincang-pincang, dan setelah beberapa lama, bila dipaksakan, saya tertatih-tatih mengikuti mr.McK yang kakinya super panjang dan jalannya super cepat itu. Begitu merananya saya, setelah dua minggu kesakitan, di suatu siang saya meneteskan air mata di sebuah plaza (ruang terbuka) yang penuh dengan turis di Madrid. Sakitnya bukan hanya di jari kaki saja, tapi karena setelah dua minggu berjalan dengan gaya aneh mencoba menghindari sakit yang mendera di jarimkaki, justru pergelangan kaki dan betis saya ikut jadi korbannya!

20120901-173245.jpg

Setelah mencoba mengistirahatkan kaki malang saya selama beberapa menit, kami berjalan pelahan-lahan mencari taxi untuk kembali ke hotel. Tentu saja saya kecut membayangkan bakal disemprot oleh supir taxi, karena jarak dari tempat tersebut menuju ke hotel sebetulnya tidak terlalu jauh. Apa daya kaki saya sudah tak mampu menyangga tubuh saya. Dan karena sudah kesakitan begitu, saya sudah tak mampu menikmati indahnya kota Madrid.

Syukurlah, saat mencari tempat perhentian taxi, kami melewati sederet toko dan saya melihat sebuah toko sepatu di antaranya. Saya lalu masuk, mencoba beberapa model ballet flat yang cantik-cantik, namun karena kaki saya masih bengkak, semuanya terasa sakit.

Nyaris patah hati, saya melihat sepatu keds yang terbuat dari kulit lembut berwarna krem, dengan hiasan warna karamel di pinggirnya, dan memutuskan untuk mencobanya.

Pernah nggak kalian mengalami sebuah momen yang membuatmu berteriak, “Eureka!” ? Ya, seperti itulah yang saya rasakan saat kaki saya pelahan memasuki sepatu keds tersebut. Begitu nyaman dan lembut. Tidak ada sisi sepatu yang menggigit jari kaki saya. Sol sepatunya juga memberikan penyangga tumit yang lembut. Seperti berjalan di awan…

Tiba-tiba saja semuanya terasa begitu indah, cuaca begitu nyaman, dan seluruh dunia tersenyum.

Dengan enggan, saya mengakui kekalahan saya dan meminta staf toko untuk membungkus sepatu hitam keluaran desainer sialan itu dan langsung mengenakan sepatu baru saya. Sambil menyimpulkan tali sepatu di masing-masing kaki, saya bersumpah untuk mencari toko sepatu yang menjual ballet flat Gabor dan memborong lebih dari sepasang sepatu untuk bekal traveling di kemudian hari.

In the mean time, saya harus puas dengan sepatu keds saya.

Keluar dari toko, mr.McK mengumumkan ia menemukan tempat perhentian taxi tak jauh dari toko itu. Saya menggeleng, ngotot meneruskan perjalanan kami. Kaki saya sudah sembuh….

Oh… sepatu penyelamat saya tersebut? Merk-nya Geox.

20120901-173254.jpg

Nah, apakah mau punya sepatu andalan seperti saya?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
1 Comment
  1. Senyum-senyum sendiri bacanya karena pernah mengalami sendiri, waktu lagi jalan di London. Sepatu penyelamat di kasusku adalah Nike, walking shoes yg super nyaman, berasa seperti tidak pakai sepatu. Dua minggu kemudian di ujung petualangan Eropa tersebut yaitu di Roma, saya temukan Geox Store di dekat stasiun KA Roma Termini, dan beli sepasang sepatu keds super nyaman juga..hehehe..

Leave a Reply

CommentLuv badge

Our Guests

Tips

About The Author

KeLuar Negeri

KeLuar Negeri

Indonesian travel enthusiast. 20 countries, hundreds of cities, millions of experience. Join me and share your journey at http://www.keluar-negeri.com

View Full Profile →

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.