Jalan-jalan Sendiri atau Ikut Paket Tour? (1)

Sewaktu saya dan travelbuddy saya memutuskan untuk mengunjungi Jepang di pertengahan tahun lalu, beberapa teman bertanya paket tour apa yang kami ambil. Begitu mendengar bahwa kami tidak ikut tour apa-apa, dan berniat untuk muter-muter sendiri, mereka sangsi apakah kami mampu menembus belantara Jepang tanpa bantuan tour guide.

“Ntar kalau kalian kesasar, gimana? Jarang lho, yang bisa berbahasa Inggris”.

“Ini nggak sama dengan jalan-jalan di Eropa. Di Eropa kan pakai abjad Latin, at least kalian bisa tahu mana “enter” mana “exit“, mana toilet cewek mana toilet cowok. Di Jepang kan huruf kanji semua.”

“Apa kalian nggak buang waktu, mencari-cari segala sesuatunya sendiri. Kan lebih enak pakai paket tour, tinggal tahu beres, pokoknya sampai ke obyek wisata yang dituju.”

“Ribet ah jalan-jalan sendiri, musti booking hotel sendiri, masuk ke tempat wisata antri sendiri, cari makan sendiri, apply visa sendiri… Kalau paket tour semuanya kan sudah diurusin.”

“Kalian cuma cewek berdua, berani jalan-jalan sendiri?” (lho kog sendiri, kan berdua….).

Dan banyak lagi komentar yang datang bertubi-tubi yang sempat membuat hati kami rada dagdidug juga. Kalau masalah bahasa, berhubung travelbuddy saya masih bisa berbahasa Jepang, meskipun sudah puluhan tahun tidak mempraktekkannya, kami jadi sedikit lebih pede. Malu bertanya sesat di jalan adalah motto utama kami. Meski peta sudah di tangan, when in doubt, ask!

Tapi apakah benar kalau jalan-jalan sendiri tanpa ikut paket tour waktu kita akan terbuang percuma?

Tergantung sih.

Pengalaman saya, paket tour yang ditawarkan biasanya nggak sreg di hati. Barusan ini saya sempat ingin nebeng teman saya yang hendak jalan-jalan ke Amerika, dan dia mengirimkan itinerary dari sebuah travel agent terkemuka di Jakarta. Harganya sangat menarik hati: hotel, transport, masuk obyek wisata, bahkan makan, sudah termasuk dalam paket yang ditawarkan. Harga tiket Jakarta-Los Angeles kalau beli sendiri kira-kira jatuhnya hampir mendekati harga seluruh paket perjalanan tersebut! Ngiler, kan?

Tapii, begitu melihat bahwa waktu yang disediakan untuk berkeliling Los Angeles, San Fransisco, Las Vegas dan sekitarnya hanya seminggu, saya jadi  males. Mosok jauh-jauh ke Amerika cuma jalan-jalan 8 hari? Kayaknya lamaan terbangnya dan ngusir jetlagnya deh daripada jalan-jalannya. Selain itu saya keder membaca itinerary-nya, hari ini di LA, besok ke SF, besoknya lagi ke Fresno, besoknya lagi ke mana, dan seterusnya. Rata-rata tour tersebut akan singgah cuma semalam di setiap kota. Kapan jalan-jalan menjelajah kotanya? Kapan foto-fotonya? Kapan napasnya? Lalu – nah ini yang langsung bikin saya patah hati – ada jadwal ke Disneyland. Disneyland! Saya bukan penggemar amusement park yang rela menyediakan waktu sehari penuh naik turun roller coaster, masuk terowongan disemprot air, muter-muter di dalam cangkir raksasa, ataupun mengejar-ngejar Mickey Mouse untuk berfoto. Eeh, setelah buang waktu seharian di Disneyland, besoknya masih diajak shopping ke factory outlet sehari penuh pula. Hmm, kapan mengunjungi obyek wisatanya nih? Gak heran kalau jadwalnya ngebut ke kiri ngebut ke kanan. Belum lagi tempat makannya pun sudah ditentukan. Sementara sebagai seorang food enthusiast, saya hobi mencoba makanan setempat yang khas, unik dan aneh, bukan mencari McDonald’s atau Chinese restaurant di setiap kesempatan. Lalu membayangkan peserta tournya, ada orang tua, ada anak-anak (yang mungkin akan menjerit-jerit sepanjang perjalanan), ada pasangan yang sedang honeymoon yang mesra melulu dan bikin kita sirik, dan lain-lain. Ribet, euy. Dan ternyata, paket tour itu baru akan berjalan bila jumlah peserta tour-nya memenuhi quota minimum (mungkin supaya bisa dapat diskon besar dari maskapai penerbangannya). Lho, kalau nggak memenuhi quota minimum, lalu bagaimana?

Singkat cerita, saya membatalkan ikut teman saya ke Amerika.

Tapi supaya lebih afdol, mari membandingkan pengalaman saya dan travelbuddy saya yang berjalan-jalan sendiri tanpa mengikuti paket tour, dengan kawan kami yang berangkat ke Jepang bersama rombongan tour-nya.

 

JALAN-JALAN SENDIRI

Lama perjalanan: 10 hari

Model perjalanan: tidak buru-buru, rata-rata kami baru meninggalkan hotel di atas jam 10 pagi, dan kembali ke hotel setelah makan malam, dengan selingan makan siang dan coffee break. Biasanya kami bisa mengunjungi 1-3 obyek wisata setiap harinya.

Metode transportasi domestik: Shinkansen (kereta cepat) untuk perjalanan antar kota, subway untuk menjelajah Tokyo dan Kobe, bis umum untuk menuju kuil-kuil di Kyoto, taxi untuk dari/ke stasiun ke/dari hotel.

Rute perjalanan: Tokyo (2 malam), Kyoto (2 malam), Kobe (1malam), Yokohama (1 malam) Tokyo (3 malam). Catatan: kami harus kembali paling tidak 2 malam di Tokyo karena travelbuddy saya disuruh meeting oleh kantornya!

 

Hasil perjalanan kami/obyek wisata/area yang dikunjungi:

Tokyo (1): Harajuku, Shibuya crossing, Hachiko statue, Sinso-ji temple, Asakusa area, Omote-sando area, bertemu dengan sobat karib kami yang sekarang tinggal di kepulauan Micronesia.

 

Kyoto: festival Gion Matsuri, Kiyomizudera temple, Kinkaku-ji temple, Yasaka shrine, Gion area, Nishiki food market.

 

Kobe: Kobe chinatown, Kobe Harbourland, Ikuta-jinja temple.

 

Yokohama: Yokohama Harbour, bertemu dengan blogbuddy saya yang sekarang menetap di Yokohama.

 

Tokyo (2): Meiji-jingu, Yoyogi park, Tsukiji fish market, cat cafe Shinjuku, Imperial Garden.

 

Temuan makanan lokal yang khas, aneh dan unik:

Tokyo: Kamagoto Dojo (Asakusa), Kyubei (Ginza), Sushi Zein (Tsukiji fish market), Bvlgari cafe (Omotesando).

Kyoto: Matsuba soba dan Gion Nishikawa di Gion.

Kobe: Mouriya.

 

Belanja souvenir: Asakusa area (Tokyo), Gion (Kyoto), Kiyomizudera temple area (Kyoto), Chinatown (Kobe), Red Brick Warehouse (Yokohama), Narita airport (Tokyo)

 

Obyek wisata yang tidak sempat dikunjungi: Tokyo Sky tree (Asakusa, Tokyo), Arashimaya bamboo groove (Kyoto), Fushimi Inari-Taisha (Fushimi-ku, Kyoto), Mount Fuji.

 

Ingin tahu berapa dana yang kami habiskan, dan bagaimana pengalaman kawan kami yang mengunjungi Jepang menggunakan paket tour dari Jakarta? Nantikan bagian 2 ya!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
2 Comments
  1. agan ke Jepang pake tour apa ? brpa harganya ? dimana lokasi kantor tour yang agan pake ?

  2. Hi Vionita,
    Saya nggak pake agen. Berangkat sendiri naik SQ (waktu itu lebih murah daripada Garuda), lalu sesampainya di kota yang dituju baru cari tourist information dan book tour yang saya mau. Saya berani begini karena travel buddy saya bisa bahasa Jepang sedikit-sedikit, kalau sama sekali nggak bisa saya anjurkan book paket tour saja.

Leave a Reply

CommentLuv badge

Our Guests

Tips

About The Author

KeLuar Negeri

KeLuar Negeri

Indonesian travel enthusiast. 20 countries, hundreds of cities, millions of experience. Join me and share your journey at http://www.keluar-negeri.com

View Full Profile →

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.