Review: Restoran Kyubei, Ginza, Tokyo

Restoran: Kyubei (atau Kyubey)
Jenis makanan: sushi (Jepang)
Lokasi: Chuo-ku, Ginza 8-7-6, Tokyo
Telepon: 03-3571-6523
Jam buka: 11:30 – 13:30, 17-21:45, closed Sunday and holidays
Website: www.kyubey.jp/index_e.html (English)
Harga: lunch ¥4,000 ke atas, dinner ¥10,000 ke atas
Waktu berkunjung: July 2012

Sebetulnya saya tidak terlalu heboh mencari sushi saat liburan ke Jepang. Pikir saya, sushi kan ada di mana-mana di seluruh dunia. Di Jakarta saja restoran Jepang banyak bertebaran di penjuru kota dan pasti menyediakan sushi sebagai salah satu menu hidangannya. Nobu, restoran Jepang yang sahamnya sebagian dimiliki oleh aktor Robert de Niro, digawangi oleh chef kondang Nobu Matsuhisa dan memiliki cabang dari Bahamas sampai Perth, tempat tinggal saya saat ini, sudah pernah saya cicipi dan rasanya rruarr biasa. Mau seenak apa lagi sushi di Tokyo? Apa mungkin rasanya beda atau lebih enak daripada sushi yang saya sudah pernah saya coba?

Jadi selama hampir 2 minggu liburan di Jepang, saya justru berburu makanan yang saya jarang atau tidak pernah saya cicipi sebelumnya. Saya sempat makan ikan yang bentuknya seperti belut mini dan di masak di atas arang. Di Kyoto saya makan soba dengan ikan herring yang diasapi. Di Kobe saya makan – apa lagi kalau bukan – kobe beef.

Menjelang liburan berakhir saya baru sadar bahwa saya belum pernah ke restoran sushi sama sekali. Wah, nggak afdol dong ke Jepang tapi nggak makan sushi. Langsung saya konsultasikan keinginan saya dengan mbah Google, dan beberapa nama restoran sushi terkemuka di Tokyo muncul. Setelah mencari yang sesuai dengan kondisi kantong, saya meminta staf hotel untuk menelepon restoran sebuah restoran sushi kondang untuk reservasi meja untuk dua orang, karena kebetulan saya janjian dengan seorang blogbuddy yang datang menjemput untuk makan siang bersama. Tapi sayang, ternyata restoran tersebut sudah fully booked sampai akhir minggu.

Dengan sedikit kecewa saya minta staf hotel merekomendasikan restoran yang enak dan berlokasi di sekitar hotel kami di daerah Ginza. Staf hotel tersebut menyarankan Kyubei: cuma 10 menit jalan kaki dari hotel, tidak menerima reservasi jadi cukup antri saja, dan rasanya bisa dijamin enak. Kami langsung berangkat menuju restoran yang dituju dan menemukannya tanpa kesulitan yang berarti.

Ternyata Kyubei ini terbagi dua bagian restoran yang saling berseberangan. Bagian restoran yang kami duduki isinya hanya bar atau counter saja yang cukup untuk 8 orang, dengan 2 orang chef yang siap melayani pengunjung. Melihat menu yang diberikan, kami memutuskan untuk memesan menu yang paling sedikit (dan paling murah): 9-course sushi lunch. Yes, 9 course! Senangnya, chef yang melayani kami bisa berbahasa Inggris cukup baik, suatu hal yang langka di Jepang. Ia sempat bercerita dulu Kyubei sering mengirim chef-nya untuk mengajari chef di restoran Jepang di Jakarta.

Rupanya di restoran sushi ini, sushi disiapkan langsung oleh sang chef, dan begitu siap langsung diletakkan di piring masing-masing. Kami berbagi koki dengan dua orang ibu yang duduk di sebelah blogbuddy saya, sementara chef yang lainnya melayani dua orang ibu di sebelah saya. Sambil ngobrol dengan kami berdua, mas chef dengan cepat memotong ikan, mengoleskan sedikit jeruk nipis di atas nasi yang ia gumpal secepat kilat, meletakkan potongan ikan di atas nasi, dan langsung meletakkannya di atas piring kami masing-masing. Seorang waiter datang dan menyajikan beberapa wadah berisi 2 macam kecap, wasabi dan irisan jahe. Mas chef lalu menjelaskan jenis ikan yang dihidangkan, dan dengan saus apa kami harus memakannya. Ia mengingatkan kami agar tidak terlalu bersemangat mencemplungkan sushi kami ke saus yang tersedia. “Just a tiny dip”, katanya.

kyubeisushi.jpg

Dengan patuh kami mengikuti instruksinya, meskipun agak ragu-ragu. Maklumlah pengalaman kami selama ini dengan restoran sushi di Jakarta adalah, makin banyak saus makin cihuy rasanya. Tapi…O-em-ji!! Sumpah, saya belum pernah merasakan sushi seenak ini. Ikan yang disajikan sangat lembut di lidah, seperti mentega. Begitu digigit ikannya seakan-akan lumer meleleh menyatu dengan nasinya. Nasinya sendiri juga sama sekali berbeda dengan nasi yang biasa kita makan di restoran sushi di Indonesia. Nasinya manis, empuk, dan lembut. Apalagi tengah-tengah nasi ada sedikit rasa jeruk yang tadi dioleskan oleh sang koki. Kombinasi antara ikan berkualitas terbaik yang sangat segar, nasi yang sangat lembut dan manis, dan tambahan jeruk nipis dan entah bumbu apa lagi yang cuma dioleskan oleh sang koki, benar-benar membuat setiap suapan sushi seperti a slice of heaven.

This. Is What. Sushi. Is. Supposed to taste.

Blogbuddy saya yang baru pindah ke Jepang dua bulan lalu, mengangguk setuju dengan penuh semangat.

Mas koki cuma tersenyum mendengar saya dan blogbuddy saya sibuk memuji sushi buatannya setinggi langit. Dengan sabar ia meletakkan hidangan berikutnya, lengkap dengan informasi jenis ikan yang akan kami santap, dan dengan saus apa kami harus memakannya. Di entah course ke-berapa, ia menjelaskan bahwa sushi yang dihidangkan adalah squid (cumi) sushi, yang dicampur dengan sedikit garam. Si koki lalu mengambil sepasang sumpit, dan mengajari kami cara memakan sushi tersebut: sushinya ditidurkan dulu, lalu dimakan dari samping, jangan dari depan, supaya bagian yang asin tidak tertelah seluruhnya, namun sedikit demi sedikit. Dan karena sudah asin, kami dilarang mencelupkannya ke dalam saus apa pun. Wah, spesifik sekali instruksinya!

Saya tidak bisa mengingat semua jenis ikan yang dihidangkan, namun saya ingat kami menyantap beberapa jenis tuna, cumi, belut laut (sea eel) beberapa ikan putih, dan scallop. Rasanya 9-course lunch si Kyubei ini maksudnya 9 jenis ikan, karena saya cukup yakin si chef menyediakan sushi lebih dari 9 kali di piring kami!

kyubeisushi2.jpg

Setelah hidangan yang terakhir selesai, dengan sopan si koki bertanya apakah kami masih lapar (serius! Kalau iya, ia siap membuatkan sushi lagi untuk kami). Namun baik saya maupun blogbuddy saya sudah tak mampu lagi menelan apa-apa, sehingga kami menolak tawaran tersebut.

Untuk 9-course sushi kami masing-masing harus membayar ¥4,200 atau sekitar 500 ribu rupiah. Mahal memang, namun mengingat pengalaman yang tak terlupakan, kepuasan yang tiada dan perut yang super kenyang, saya rela deh.

O ya, maaf hasil fotonya kurang ok. Lampu di restoran agak redup dan sayangnya saya tidak membawa kamera beneran, sehingga akhirnya saya hanya bisa memotret makanan yang dihidangkan dengan iphone 4 saja.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
3 Comments
  1. blogbuddy hadir!! 😀
    nice review of the resto, semoga sempet lagi ke sana, nyam2.
    Congrats for the new site, Nit. Tampilannya enak, simple. Content nya udah mayan banyak, padahal baru lahir 🙂

    Good luck dear.. menunggu posting2 selanjutnya.

    x
    nadia´s last blog post ..Photos: Sensoji Temple at Night

  2. Thank you, dear! Want to write something about your adventure in Africa?:)

  3. haha yang itu ya.. mau dong! 😉
    ini lagi liburan di europe ya…. yg part 2 tulisan sblmnya udah terbit belum akhirnya… (yg ada huggerboy). pengen baca ngakak2… 😀 have a good vacation dear! x
    nadia´s last blog post ..Photos: Sensoji Temple at Night

Leave a Reply

CommentLuv badge

Our Guests

Tips

About The Author

KeLuar Negeri

KeLuar Negeri

Indonesian travel enthusiast. 20 countries, hundreds of cities, millions of experience. Join me and share your journey at http://www.keluar-negeri.com

View Full Profile →

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.