Susahnya Jadi Orang Indonesia: Suka Duka Mengurus Visa

Sepanjang sejarah karir pendek saya sebagai seorang ‘globetrotter’, saya akhirnya menyadari bahwa jadi warga negara Indonesia itu tidak enak. Indonesia hanya punya perjanjian dengan 11 negara yang mengijinkan pemegang paspor Indonesia masuk ke negara-negara tersebut tanpa visa, misalnya Singapore, Malaysia Thailand atau Vietnam. Artinya, selain 11 negara tersebut, kita semua harus menjalani proses aplikasi visa yang melelahkan, yang harus dilengkapi dengan dokumen pendukung yang kadang nggak penting banget, seperti Kartu Keluarga, bank statement, bukti bahwa kita punya teman/keluarga di negara yang kita kunjungi, atau surat jaminan dari kantor bahwa kita pasti akan kembali ke Indonesia untuk meneruskan pekerjaan kita. Sebalnya, Indonesia mengijinkan 63 negara untuk mengajukan visa on arrival (visa yang bisa diproses di gerbang kedatangan, tanpa perlu repot-repot mengurusnya di negara asal, klik di sini untuk melihat daftar komplitnya). Misalnya, ‘bekas pacar’ saya yang warga negara Inggris berhak mengajukan visa on arrival saat mendarat di bandara Soekarno-Hatta, yang selesai dalam waktu beberapa menit, tapi saya sebagai warga negara Indonesia tidak mendapatkan hak yang sama untuk Inggris. Saya harus mengajukan aplikasi visa ke Kedubes Inggris di Jakarta lengkap dengan setumpuk dokumen-dokumen tersebut di atas dan harus melewati proses menunggu berhari-hari, bahkan interview. Nggak adil, ya?

Pengalaman traumatis yang pertama kali saya alami saat berurusan dengan kedubes dan imigrasi adalah saat memasukkan aplikasi student visa ke konsulat jenderal Australia di Bali. Saya agak beruntung karena waktu itu saya tidak perlu datang langsung untuk mengajukan aplikasi tersebut (beda dengan kedubes Jerman, misalnya, applicant harus datang sendiri), karena sudah diurusi oleh petugas dari Australian Education Centre di Surabaya. Namun, saya berhasil ditakut-takuti dengan berbagai macam cerita seram, misalnya ada yang aplikasinya tidak disetujui dan kedubes Australia tidak akan memberitahukan alasannya, ada yang kedapatan memalsukan dokumen dan akhirnya selain aplikasinya ditolak, ia juga tidak diijinkan masuk ke Australia selama beberapa tahun, atau bahwa meskipun semua nampak ok di atas kertas, tuition fee sudah dibayar, tidak akan ada jaminan bahwa visa akan disetujui, dan sebagainya, atau ada kemungkinan petugas kedubes Australia akan menelepon applicant untuk mencocokkan dokumen yang kita kirim, dan lain sebagainya. Jadi meskipun saya tidak melakukan sesuatu yang ilegal dan menjalankan semua proses seperti petunjuk yang diberikan, saya benar-benar ketakutan aplikasi visa saya tidak disetujui, dan saat menunggu pengumuman datang saya sampai mimpi buruk selama berminggu-minggu.

Setelah menunggu sekian lama, saya akhirnya berhasil memperoleh student visa saya tanpa hambatan. Semua cerita buruk yang saya dengar, untungnya tidak terjadi. Tapi pengalaman itu meninggalkan kesan yang cukup dalam, dan sejak itu saya memiliki kebiasaan untuk mengajukan dokumen pendukung lebih dari yang diminta oleh kedubes manapun. Saya mencoba berpikir seandainya saya jadi petugas yang mengecek aplikasi yang jumlahnya bisa puluhan, bahkan ratusan, setiap harinya. Saya yakin bahwa kertas yang kelihatan jorok, tulisan yang carut marut tidak rapi, atau dokumen yang tidak diatur secara berurutan akan membuat petugas kesal dan kesempatan saya untuk mendapatkan visa dengan cepat menjadi lebih kecil. Jadi saya selalu menyiapkan aplikasi saya dengan rapi, misalnya dokumen ditata berurutan sesuai permintaan kedubes atau secara alfabet, menyediakan 2 fotokopi untuk setiap dokumen, dokumen yang tidak dalam bahasa negara yang bersangkutan sudah disiapkan terjemahannya, dan diterjemahkan oleh penterjemah yang ditunjuk oleh kedubes, semua dokumen distempel oleh petugas berwenang, kalau perlu yang memiliki autorisasi paling tinggi (misalnya kalau dokumen dari kantor, selain bos HRD, kalau perlu saya minta tanda tangan CEO), dan lain sebagainya. Nggak heran bila saya selalu kecapaian setelah mengajukan aplikasi visa – ribetnya serasa seperti mengajukan hasil riset untuk dipresentasikan di depan komite Nobel! Plus perlakuan sebagian besar petugas kedubes yang selalu nampak curiga dengan semua applicant juga nggak membantu mengatasi rasa nervous yang mendera, apalagi ditambah ada petugas lokal yang entah kenapa merasa keselamatan hidup kita ada dalam genggaman mereka sehingga mereka 1) jadi genit dan main mata, atau 2) sebal atau cemburu karena kita hendak keluar negeri jadi saat menyerahkan visa kita, mereka minta dibawakan suvenir. Saya nggak bercanda, ini terjadi lho pada diri saya sendiri!

Saya dengan pasrah menerima semua cobaan ini sebagai bagian dari ujian untuk bersenang-senang kemudian (saat visa saya keluar). Tidak peduli betapapun menjengkelkannya semua proses ini, saya selalu mempresentasikan diri saya sepalsu sesempurna mungkin: penuh senyum, ramah, rendah hati, baju rapi (tanpa kesan terlalu berlebihan), dan bahkan sedikit kerlingan manja (bila dibutuhkan). Selama ini sih saya cukup beruntung, karena tidak pernah sampai dipanggil interview seperti kawan saya J, yang ditanyai macam-macam dan semua pertanyaannya penuh ‘jebakan batman’. Untungnya juga saya belum pernah harus berurusan dengan kedubes Amerika. Belum-belum sudah patah hati duluan melihat antrian panjang di luar kedubes, sebagian ada yang mulai antri dari jam 5 pagi supaya dapat layanan lebih awal (pernah bayangkan bila kondisinya dibalik, kebayang nggak warga Amerika disuruh antri di kedubes Indonesia? Adanya mereka pasti ngomel-ngomel minta segera diservis!).

Berhubung sepanjang sejarah berurusan dengan kedubes saya selalu diperlakukan sebagai ‘nobody’, di bawah sadar saya selalu merasa untuk mendapatkan sebuah visa harus melewati jalan terjal dan berliku-liku dahulu. Itu sebabnya saya hampir pingsan tidak percaya saat kedubes Inggris menyerahkan kembali paspor saya lengkap dengan visanya dalam 48 jam (ini sudah termasuk waktu yang terbuang untuk mentransport dokumen saya bolak-balik dari Visa Centre di Plaza Abda dan Kedubes Inggris di Thamrin, plus visa yang saya ajukan waktu itu bukan visa turis, tapi fiancee visa, yang butuh paling tidak seratus dokumen pendukung untuk membuktikan bahwa saya dan pacar saya yang memang dari Inggris ini benar-benar bertunangan). Dan tentu saja, kedubes hobi membuat applicant-nya deg-degan menunggu, dan mereka tidak akan memberi tahukan apakah dokumen kita sudah selesai atau belum. Kedubes Inggris punya sistem yang akan memberikan informasi lewat website, apakah paspor kita sudah siap untuk diambil kembali – tanpa memberitahukan aplikasi kita tembus atau tidak. Kedubes lain hanya memberikan sepucuk tanda terima yang berisi informasi tanggal kita harus kembali, tapi dengan embel-embel belum tentu visa kita sudah jadi saat itu. Namun sepanjang pengalaman saya, hal ini tidak pernah terjadi. Bila kedubes seharusnya bisa memegang janji, kenapa sih harus memberikan informasi ambigu seperti itu? Heran ya.

Saat saya memutuskan untuk mengikuti suami ke Belanda di akhir pekan (kami tinggal di Inggris, dimana perjalanan dari Aberdeen, kota kami tinggal, ke Amsterdam, cuma butuh waktu 1 jam terbang, seperti Jakarta-Surabaya), saya tahu bahwa saya paling tidak butuh 2 minggu untuk memproses visa saya (oh, dan tentunya suami tidak butuh visa, dong! Huh! Saya nggak ngerti kenapa warga negara Malaysia dan Singapore boleh masuk ke Belanda tanpa visa, sementara kita, negara yang dijajah 350 tahun oleh Belanda dan sudah membuat mereka makmur, malah dipandang sebelah mata?). Meskipun website kedubes Belanda menyatakan bahwa visa bisa diproses dalam 48 jam, karena saya warga negara Indonesia, pastinya saya imun dari kemewahan tersebut. Saat mendapat konfirmasi dari suami mengenai tanggal keberangkatan, saya agak bingung dengan 2 dokumen yang diminta oleh website kedubes Belanda di Inggris, dan daripada kerja dua kali dan bolak-balik, saya, seperti biasa, putuskan untuk menyediakan semuanya. Dokumen terakhir, travel insurance, diproses dalam 3 hari dan saya baru mendapatkannya Jumat lalu.

Yang berarti saya harus mengajukan aplikasi Schengen visa hari Senin ini. Tinggal 1 minggu. Saya tahu kemungkinannya kecil untuk mendapatkan visa dalam waktu kurang dari 1 minggu, tapi saya tetap berusaha.

Ini yang terjadi 2 jam lalu.

Ibu petugas konsulat (di Aberdeen adanya konsulat jenderal, kedubes Belanda tentunya berlokasi di London) melihat paspor suami sambil tumben-tumbennya tersenyum dan berkata, “Oh, kamu menikah dengan warga negara Inggris. Ini akan membuat hidupmu lebih gampang!”. Wow, biasanya di kedubes Belanda di Indonesia saya harus susah payah membuktikan saya bukan pengemis, punya dana cukup untuk jalan-jalan ke Belanda, jadi harus menyerahkan fotokopi bank statement atau traveler’s cheque. Tapi karena kekuatan paspor suami, di sini tidak perlu. Ibu tersebut dengan ramah menyerahkan kembali fotokopi traveler’s cheque yang saya serahkan dan sama sekali tidak mengecek dokumen aslinya (terus terang saya kecewa! Saya sampai tergopoh-gopoh lari ke kantor pos untuk membeli traveler’s cheque, balik lagi ke rumah untuk membuat fotokopinya – karena di websitenya kedubes Belanda minta semua dokumen difotokopi – dan lari ke konjen Belanda karena takut counter-nya tutup, ternyata saya tidak perlu membuktikan saya punya uang!). Di website juga dinyatakan saya harus punya travel insurance, dan saya sudah terburu-buru mengurusnya yang menyebabkan saya membuang 3 hari untuk mendapatkannya, tapi ini juga tidak dicek oleh sang ibu yang bersangkutan. My life is indeed easier.

Tapi tunggu dulu! Si ibu kemudian melihat paspor saya, menyadari bahwa saya warga negara Indonesia, dan tanpa kata-kata mengambil sebuah map paling hitam dan paling tebal yang pernah saya lihat, mencari-cari selembar kertas yang berisi daftar yang sangat panjaaaang, dan akhirnya menemukan “Indonesia” di dalam daftar tersebut. “Maaf,” katanya, masih sambil tersenyum. “Saya rasa kamu butuh 3 minggu untuk memproses visa turis. Karena suamimu warga negara Inggris, kamu akan mendapatkan visa yang akan mengijinkan kamu untuk memasuki semua negara-negara yang ada di dalam perjanjian Schengen untuk 3 bulan, atau lebih. Tapi karena kamu dari Indonesia, kami harus menghubungi semua negara Schengen lainnya untuk memastikan kamu bisa memasuki negara masing-masing.”

3 Minggu untuk memproses visa saya untuk perjalanan yang cuma membutuhkan 1 jam terbang, untuk tinggal di negara tersebut selama 3 hari, dari hari Jumat sampai Minggu.

Tapi di website ditulis 48 jam kog! Si Ibu tersenyum lagi dan mengatakan bahwa 48 jam itu biasanya untuk business visa atau kalau ada sesuatu yang sangat amat mendesak, misalnya ada keluarga meninggal di Belanda dan saya harus menghadiri pemakamannya. Pokoknya berhubung saya warga negara Indonesia, status saya harus di-clear-kan dulu dengan 23 negara Schengen lainnya, makanya kedubes Belanda butuh 3 minggu.

Saya akhirnya balas tersenyum.

After all, I’m an Indonesian. Tidak ada yang mudah buat warga negara Indonesia.

Sedih gak sih….

Diterjemahkan dari What A Difference A Nationality Made (Finally Woken)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
64 Comments
  1. hay aku putu… aku punya pacar dari scotland. kami punya rencana ke scotland n sudah 2x pengajuan uk visa ku di refused, alasan nya aku tidak punya cukup bukti bahwa aku ada hubungan dgn pacarku. dan alasan kedua karna aku sudah tidak bekerja lagi dan tidak bisa membuktikan bagaimana aku bisa menghidupi diri ku sendiri di indonesia.
    kalau boleh aku minta saran nya n apa yang hrus aku siapkan untuk pengajuan visa next time. dan type visa apa yang hrus aku ajukan krna sebelum nya alasan pacar ku kita punya rencana menikah tpi sebenar nya tidak ada recana menikah…
    mks atas informasi nya

  2. Saya dulu pasport Indonesia memang sangat sulit jika mengurus visa masuk keeropa atau Amerika.
    dan saya mengambil cara yang lain untuk dapat masuk ke europa, saya tidak dapat jelaskan hal itu itu rahasia berarti saya harus bertindak cepat. setelah saya masuk ke Hamburg Jerman Barat saat itu memang pasport Indonesia bebas visa masuk ke jerman pada Th 1973/’74.
    setelah saya berada di Hamburg bekerja sementara dan saya berusaha agar saya dapat masuk ke Belanda, karena saya ada punya famili di Beelanda. Dengan jalan tikus dibantu saudara saya saya dapat msuk ke Belanda.

    setelah saya berada di Belanda saya harus berusaha untuk mendapat pasport europa, dan saya berhasil mendapat paspor Belanda di tahun 1983. setelah sya mendapat pasport europa dan paspor Indonesia saya kembalikan ke kunsulat RI di Den Haang dengan alasan saya sudah menjadi orang europa.

    Ini yang hebat pasport europa manusia semiskin apapun di eoropa, beli ticket dan duduk dalam pesawat kemana aja kita akan gak adalah masalah bebas visa saya masuk ke Amerika singapore dan Malaysia tanpa visa…ini sekedar berbagi pengalaman saat memakai paspor Indonesia penuh dengan masalah visa, tetapi sekarang saya pasport europa bebas visa masuk kenegara manapun didunia….ini. he…he…susahnya menjadi orang Indonesia.

  3. mbk, mau tanya apa bisa pacar saya org uk, mngurus visa saya lsg dr negaranya sedangkan saya di Indonesia blm pernah keluar negeri, mohon infonya

  4. Jadi luntur neh harapan dapet visa kerja ke UK woaaaaaaaa :'( :'( :'(

  5. Hiks :'(

  6. Hi mba makasih ya waktu itu banyak kasih info berguna buat saya. Sekarang saya sudah tinggal di Scotland, enter UK dengan settlement visa dan setelah tiba di sini diganti dengan resident card. Thank you so much mba!

  7. Permisi mba.. perknalkan.. saya indah… rencna saya mau ngurus turis visa ke inggris utk mengunjungi suami yg british citizen.. saya blom bisa mengurus spouse visa krna sesuatu n lain hal, suami hrus ngumpulin slip gaji nya utk 6 blan k depan.. jdi blum bisa apply.. makanya,utk smntara saya yg akan k UK utk bbrpa minggu selagi nunggu suami bisa apply spouse visa buat saya.. nah, pertanyaan saya, apa prmohonan turis visa saya bisa d trima?krna saya baca2 blog katanya agak sulit karna pihak kdubes takut saya akan brdomisili di sana dgn status touris visa saya..ato gmn mba? boleh saya tw Pengalaman mba ngurus visa?? Mhon pncerahan nya mba.. ☺
    Warm regard..
    Indah

  8. Permisi mba.. mba,saya mau tanya.. boleh saya tau email nya mba dwita ayu? Karna kasus saya nyaris sama sengan beliau.. ada hal2 yg mau saya tanyakn juga.. mhon sekali mba.. trimaksih sblumnya.. ☺

  9. Damn truee! Thanks infonya saya baru tau jd orang Indo emg susah ya dan sy jg baru tau mudah bgd negara ini memberikan para turis yg mau k indo smpi free visa uhhh saya betapa lelahnya ajukan v student d srilanka juga brdasarkan info one of srilankan embassy ug d jkrt anda ga perlu pulang pergi bs change visa dr visit to student smpai akhrya saya dsuruh pulang dulu pdahal saya sudah lengkapin smua doc yg mrk minta kita udah bilang itu akan wasting the money dan time ttp aja dpersulit!! Entahlah sekarang msh on proses mb 🙂

  10. Mba Indah sekarang sdh di UK atau blm ? kl ada FB coba gabung aja di group UK-ROI byk teman2 yg bs kasih saran krn setahu saya ada juga istri2 yg suaminya British Citizen dan yg blm siap apply spouse visa krn dokumen kurang atau income mrk visit menggunakan family visit visa dg route 2 thn atau 5 thn.

  11. Hallo mba.. blum mba.. saya gk jadi k uk pake visit visa.. kita brsabar dlu aja.. rencna mau apply spouse visa akhir juli ato awal agustus ini.. krna alhamdulillah pngumpulan slip gaji 6 bulan ny udh hampir selesai.. hehe.. tp nnti saya coba join sm grup tsb.. trimkasih atas blasan ny mba.. 😊

  12. Sukses ya mba buat visa nya biar cepetan bisa nyusul kesini 😍

Page 2 of 2«12
Leave a Reply

CommentLuv badge

Our Guests

Tips

About The Author

KeLuar Negeri

KeLuar Negeri

Indonesian travel enthusiast. 20 countries, hundreds of cities, millions of experience. Join me and share your journey at http://www.keluar-negeri.com

View Full Profile →

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.